Sunday, February 10, 2008

Khayalan


Tuesday, November 20, 2007

OIL for Education.


Pada pertemuan OPEC bulan Nov 2007 di Ryiad, Wapres Jususf Kalla megusulkan menyisishkan 50 sen USD dari penjualan satu barrel minyak untuk Pendidikan dan Pemeliharaan Hutan. Usul ini disambut baik oleh Presiden Iran. Memang ini merupakan suatu hal yang bertujuan yang mulia.

Kalau pengumpulan Dana tersebut sudah disepakati oleh anggota OPEC, bagaimana cara pelaksanaannya yang praktis, feasable dan terlihat atau terasa dampaknya dalam waktu yang tidak lama.

1. Dengan tersedianya teknologi komunkasi yang canggih, soal ini dapat dilaksankan dengan segera dan akan terlihat dampaknya dalam waktu singkat.
Pertama sarana yang dapat dipakai di Indonesia sudah tersedia. Umpamanya, Satelit, Software utk computer yang sedang diolah oleh Menristek dan ITB. Hardwarenya dapat diproduksi didalam negeri. Terutama di Bandung, sudah banyak "computer Jangkrik" yang diprodusir lokal untuk dijual dalam jumlah kecil-kecilan. Computer dengan Hard Drive yang tidak begitu besar dengan CPU yang mempunyai kecepatan yang tinggi. Computer seperti ini sudah cukup memadai untuk dipakai sebagai alat untuk dipakai di kelas-kelas sekolah SD, SMP maupun SMU, untuk keperluan pendidikan. Suku cadang dapat diimpor dari Cina dengan murah.

2. Belajar atau Pendidikan dengan Internet ini akan lebih murah ketimbang dengan cara Pendidikan yang biasa dimana diperlukan Gedung sekolah, Guru-guru disetiap kelas, pemeliharaan gedung sekolah. Jam belajar di kelas dapat dipersingkat, dengan demikian murid-murid masih ada waktu untuk menolong orang tuanya dirumah maupun disawah atau di ladang. Ruangan belajar yang dilengkapi dengan computer dapat dipakai bergilir secara teratur. Ruangan belajar dapat disatukan engan Ruangan Perpustakaan. Diluar jam-jam belajar, Ruangan kelas dan Perpustakaan dapat dipakai oleh penduduk setempat. Mungkin dengan acara "Pendidikan utk orang dewasa atau manula". Pendidikan untuk orang dewasa ini berupa pelajaran praktis yang ditayangkan di monitor mengenai pertukangan kayu, pelajaran praktis mengenai listrik, montir motor, masak-memasak, menjahit, mombordir, melukis, puisi dan lain-lainnya. Untuk mengirit ongkos, dalam menayangkan pelajaran-pelajaran ini, tidak langsung dari Satelit, tetapi sudah dibuat CD atau DVD, yang mana CD dan DVD ini merupakan koleksi Perpustakaan.

3. Di Desa-Desa yang terpencil, Perpustakaan/Ruang belajar ini tenaga listriknya dapat diambil dari Tenaga Surya atau Diesel dengan bahan bakarnya dari minyak jarak. Pengelola Perpustakaan/Ruang belajar ini membeli minyak biji jarak dari penduduk setempat.
Dianjurkan semua penduduk untuk menanam pohon pagar jarak. Bijinya diolah sendiri atau berupa koperasi dan minyaknya dijual sebagai bahan bakar diesel penggerak tenaga listrik. Juga dijual kepada penduduk dengan harga murah untuk keperluan penerangan dirumah-rumah.

4. Computer di Perpustakaan ini dapat dipakai untuk menghubungi Dinas-Dinas Pertanian, Agama, Puskemas, Usaha ikan air tawar, Perindustrian Kecil (Home industry), Polri melalui satelit. Apakah langsung ke Ibukota Propinsi atau langsung ke Kementrian yang bersangkutan. Untuk meminta petunjuk, saran-saran atau informasi lainnya yang terkini. Juga tentunya dalam suasana darurat, banjir, angin ribut, longsor dllnya, keadaan setempat dapat dilaporkan dengan segera. Dengan demikian pertolongan dapat dikrimkan dalam waktu singkat. Disini diperlukan pesawat terbang semacam Hercules, dan ini merupakan tugas utama Kopassus.
Atau dibentuk Kopassus utk usaha kemanusiaan yang terdiri dari Dokter-Dokter muda, Insinyur Pertanian, Perawat-perawat, Apotheker, insinyur Sipil, tenaga ahli teknik, chef (Koki, tukang masak).
Tenaganya dipilih dari lulusan akademi atau P.T. yang baru lulus, dengan kata lain di-"wamilkan". paling sedikit dua tahun. Disamping keahliannya masing-masing, juga dilatih sebagai seorang Kopassus tulen !

Persiapan-persiapan seperti tersebut diatas perlu dipikirkan dan dimulai dari sekarang, sambil menunggu mengucurnya dana Oil for Education.
Kalau ada yang mempunyai akses ke Wapres, silahkan dikopi dan dikrimkan kepada beliau.

singgihnatanyc 10/07
posting berikutnya "Oil for Forestry"

Posted by MangSi at 9:27 AM 0 comments

Mrngkhayal, mimpi adalah latihan untuk otak agar berjalan semestinya, dengan begitu imajinasi menjadi berkembang.

Posted by MangSi at 9:25 AM 0 comments

Sunday, October 28, 2007

Mass Transit System di Jakarta.
Monorail rupanya menjadi pilihan utk menjadi Mass Transit System di Jakarta. Malah sudah terlihat pelar-pilar besi beton yang belum rampung. Bayangkan sepanjang 14.6 kilometer akan berjejer pilar-pilar besibeton puluhan atau ratusan. Tentu tidak akan membuat enak dilihat mata, apalagi kalau pilar-pilar penuh dengan graffiti. Kalau semua pilar-pilar ini dicat hijau, itu lain lagi. Mungkin ini yang dimasud Pemda Ibu Kota dengan "penghijaun kota". Apalagi setiap pilar itu dikelilingi dengan pot kembang tergantung. Jadi kemungkinan besar untuk meng-camouflage pilar-pilar ini, merupakan ongkos dluar ongkos monorail yang sejumlah USD 650 Juta itu. Karena "monorail" yang dijalankan berdasarkan System Malev ( magnit) akan mahal.

Kota Seatlle, yang mempromosikan "Monorail" ternyata pada Nov.2005 penduduknya memberikan suaranya yang mengagalkan rencana ini. Diperkirakan akan memakan ongkos USD 100 juta per satu mile. Kemudian diperhitungkan kembali menurun menjadi USD 87 Juta per mile.

Di Las Vegas, yang panjangnya 6.3 kilometer dan dibangun 7 stasion memakan ongkos USD 650 Juta. Setelah pembukaan, kemudian tidak jalan selama 6 bulan karena ada kesulitan-kesulitan pengoperasiannya.( ada alat-alatnya berjatuhan.....percaya tidak, padahal ini di Negara Kecap nomor satu).. Dan juga Monorail di Las Vegas ini, bukannya Mass Transit System tulen. Ini hanya sebagai usaha marketing saja. Mengangkut turis-turis dari satu Casino ke Casino lainnya.

Diberitakan ongkos pembangunan Monorail di Jakarta akan memakan ongkos USD 43 Juta per kilometer. Kalau di permilenya hampir mendekati ongkos di Seattle.
Dengan ongkos sebesar itu, pembangunan Monorail hanya hanya dipakai untuk keperluan Monorail saja. Tidak ada kegunaannya lainnya. Kecuali kalau umpamanya, dibawah bangunan monorail ini dibangunkan Rumah Murah Sekali, bergelantungan sepanjang 14.6 kilometer. Apa ini dapat dikatakan sebagai usaha menanggulangi banjir di Ibu Kota ?
Kalau dikatakan monorail ini sangat besar ongkos membangunnya, setelah jadi, pilar-pilar itu merusak pemandangan, malah kemungkinan akan menjadi sasaran anak-anak tanggung digambari graffiti. Kemudian kalau diputuskan tidak akan dibangun, tapi Ibu Kota memerlukan sekali System Mass Transit.

Ada Bus Way, yah dapat saja Bus Way dibuat sedemikian rupa sehingga dapat mengangkut penumpang lebih banyak. Jumlah Bus-busnya ditambah. Sehingga kedatangan/keberangkatan dari station Bus bisa lebih sering . Atau dua Bus disambung menjadi satu, ditempat sambungan dipasang penutup badan bus dari karet sehingga dapat bergerak seperti cacing kepanasan. Atau dipasang rel ketiga ditengah-tengah jalanan Bus Way, agar Bus cacing kepanasan ini tidak keluar dari jalurnya. Juga rel ketiga ini dapat digunakan untuk menaikkan kecepatan Bus lebih tinggi lagi namun keselamatan terjaga. Keuntungan lain, Bus Cacing Kepanasan ini hanya dipasang dengan satu mesin penggerak. Irit menghemat bahan bakar Apalagi mesinnya yang sekarang memakai bahan bakar Gas, diganti dengan Diesel Electric memakai bahan bakar Bio -Diesl. Irit, murah ( bagi negara menurunkan subsisi BBM), ramah lingkungan. Apakah akan mengurangi polusi, masih merupakan tanda tanya. Kalau satu Bus dengan Diesel Electric beroperasi di jalanan, dengan DP yang murah utk speda-motor, mungkin puluhan speda motor bertambah di jalanan, yah sami mawon..

Jadi Ibu Kota harus mempunyai Mass Transit System yang murah, cepat dan memuat banyak penumpang. Kalau sudah ada pilihan yang dijadikan MTS di Ibu Kota, harus dipikirkan di stasiun=stasiun harus ada tempat utk penitipan speda motor. Menitipkannya speda motor di Stasiun ini harus bayar. Besarnya ongkos penitipan paling tidak, sama atau lebih mahal daripada ongkos angkot,bajay, ojek atau bus khusus dari permukiman langsung ke stasiun ini. Singga kalau dihitung-hitung akan lebih murah kalau speda motornya disimpan dirumah. Berarti mengurangi padatnya lalu lintas dan akan mengurangi polusi udara. Tapi melihat ongkos yang besar dalam pembangunan Monorail, pilihan ini akan memberatkan Negara,Pemda dan penumpang (karcis mahal). Sekarang saja sudah ada suara-suara utk menaikkan ongkos Bus Way.

New York City yang terkenal dengan MST-nya dalam tanah dan Bus, penghasilan dari karcis yang dapat menutupi obgkos pengoperasian hanya mencapai 65 % saja. Dan angka ini adalah yang tertinggi dibandingkan dengan Metro di Paris, Metro di Mexico City dan MTS di kota-kota lainnya. Nah kalau di kita, MTS ini dianggap rugi, penjualan karcis tidak memadai ongkos pengoperasiannya,... yah itu adalah wajar= wajar saja, memang begitulah keadaannya kalau berusaha dalam Tarnsportasi Penduduk Kota. Dimanapun dikota-kota besar didunia, Pemerintah mengulurkan tangan dalam ongkos pengoperasianya, berupa subsidi.
Karena Pemerintah turut campur dalam pembiayaan pengeoperasian MSR, jadi Pemerintah harus memberikan petunjuk bahwa pebangunan MST, harus ada dampaknya yang positip kepada lengkungan alam ataupun menaikkan tingkat kehidupan penduduk kota itu.

Ada Mass Trasit System yang pernah di kemukakan sebagai satu jalan MST di Jakarta ialah MST Dalam Tanah. Namun dengan argumentasi bahwa Jakarta ini rawan banjir, MSTDT (Mass Transit System Dalam Tanah) tidak mungkin untuk ditrapkan. Ada betulnya juga argumentasi itu.
Namun kalau ada pemikiran, membangun MSTDL kemudian sekali gus menanggulangi banjir, apakah Pemerintah Daerah/Pusat/Kota akan membangunnnya ? Tentunya ongkos tidak akan murah. Baiklah kita ambil ongkos monorail sejumlah USD 650 Juta untuk pembangunan MTSDT. Kalau Pemda Banten dan Lampung sanggup mencari Dana sejumlah USD 10 Billions, ongkos MRSDT ini kurang dari sepersepuluh ongkos Pembangunan JSS. Dan bermanfaat untuk rakyat kecil yang tidak mempunyai kendaraan spedah motor apalagi mobil. (Lewat JSS jalan kaki sambil membawa pikulan, atau menggenjot speda penuh dengan barang dagangan ??)
Bagaimana kalau Pemda DKI meminta pertolongan Menristek, Bappenas serta Perguruan Tinggi untuk merancang Mass Transit System dengan pensyaratan sbb:

1. Mass Transit System Dalam Tanah.

2. System ini juga dapat mencegah banjir

3.Tenaga penggerak gerbong: listrik, Diesel-Electric atau Malev (Magnit), diutamakan yang paling murah, irit bahanbakar, serta gampang dalam usaha pemeliharaanya .

MangSi yang tahunya hanya melukis cat air, mengkhayal, bercerita dan bersajak, mempunyai jawabannya sbb:

1. Dimulai dari Kebayoran Blok M ke Monas. Penggalian terowongan dimulai dari Banjir Kanal ke arah Kebayoran dan yang satunya kearah Monas. Dengan begini menggampangkan pembuangan tanah galian. Ditampung didalam tongkang. Tongkang-tongkang dibuat dan di"las" dekat Banjir Kanal. Tanah ini diangkut dan dipakai untuk ditimbun didaerah-daerah yang rendah atau meninggikan tanggul=tanggul di Banjir Kanal.

2. Didalam terowongan dibangun tabung dari besi beton yang dibuat di tempat. Tabung ini dibuat dua tabung ditumpuk dari atas ke bawah. Cement dan besibeton dan pasir diambil dari tongkang-tongkang di Banjir Kanal. Air tersedia berlimpah-limpah.

3. Tabung yang atas dipakai untuk jalanan MTSDT, tabung dibawahnya, yang sama ukurannya atau kebih besar lagi, dibiarkan kosong. Tabung dibawah itu akan dipakai sebagai tempat penyimpanan air hujan. Pengisian Reservoir ini ialah dengan air hujan, melalui sistim riool (sewer system ) sepanjang MSTDT dari Kebayoran ke Monas. Tabung diatasnya dapat dipakai sebagai tabung tambahan reservoir air hujan. Kalau turunnya hujan melebihi dari kebiasaan. Tentunya kegiatan MSTDT dihentikan sampai air surut. Pembuangan air hujan yang ditampung dibuang ke Banjir Kanal sampai mencapai ketinggian tertentu di Main Reservoir.

4. Air hujan yang ditampung di Main Reservoir, diolah menjadi air minum. Kalau Israel dan Saudi Arabia dapat mengolah air minum dari air laut, tentunya pengolahan air hujan akan lebih murah ongkosnya. Pabrik pengolahan air hujan ini dibangun sebagai pabrik terapung di Banjir Kanal.

5. Mengingat Tabung yang diatas selain dipakai untuk MSTDT, juga sewaktu-waktu dipakai sebagai Reservoir tambahan, dengan sendirinya, segala peralatan yang dipakai oleh MTSDT ini harus anti air.Third Rail seperti Subway system di NYC ( yang dipakai utk aliran listrik tegangan tinggi), tak dapat dipakai. Mungkin kabel listrik diatas yang dipasang dilangit-langit tabung, masih ada kemungkinanuntuk dipakai. Jadi seperti Trem di Jakarta tempo doeloe. Tetapi rel besi, lama lama akan berkarat, pemeliharaannya akan menjadi mahal.

6.Mungkin yang praktis dan murah adalah gerbong-gerbong memakai ban karet mati ( seperti forklift), tentu gerbong-gerbong ini dilengkapi dengan "Shock absorber" agar perjalanannya lancar dan rapih.Dengan memakai rel ketiga dibuat dari beton dipasang ditengah-tengah jalur. Roda karet mati dipasang horisontal. Ini perlu agar gerbong-gerbong itu tidak menyinggung dinding tabung. Tenaga penggeraknya, Electric Diesel atau Full Electric ( Batteries). Kalau Diesel Electric sepanjang jalan diatas Tabung ini ditanami Pohon Palm atau Pohon Aren. Diantara pohon-pohon dipasang pohon tiruan yang dipakai sebagai ventilasi. Dipucuk pohon dipasang Electric Exhaust Fan dengan tenaga Surya.Kalau Full Electric, Batteries-nya diisi dengan listrik kalau gerbong-gerbong tidak beroperasi.

Kalau Jembatan Selat Sunda yang diperkirakan akan memakan ongkos Rp 91 trilyun disokong oleh Wapres, masa iya ini proyek sepersepuluhnya dari ongkos JSS plus banyak manfaatnya bagi rakyat kecil. Juga demi Ibu Kota Republik, masa iya tak disokong. Nah kalau disokong Wapres, dan proyek MSTDT ini kemudian menjadi kenyataan, siapa tahu suara rakyat Ibu Kota separohnya saja dari sejumlah 8 juta dapat dikantongi Wapres, kalau bercita-cita mau menjadi Pres. sudah ada simpanan. Kan sekarang sudah mulai keliling bersilahturahmi kedaerah-daerah, yah diteruskan saja.

singgihnatanyc10/2/07

Posted by MangSi at 7:59 PM 0 comments

Tuesday, October 23, 2007

INNChannels, Jakarta - PT PLN (Persero) akan menandatangani setidaknya sembilan kontrak jual beli listrik (power purchase agreement/PPA) dengan pengembang proyek pembangkit listrik swasta (independent power producer/IPP) pada Oktober-Nopember ini.

Deputi Direktur Pengelolaan IPP PLN Nasri Sebayang di Jakarta, Minggu (21/10) mengatakan, proyek-proyek yang berlokasi di luar Jawa tersebut akan memenuhi kebutuhan daya listrik yang semakin meningkat dalam beberapa tahun ke depan. "Sebagian besar proyek itu dikelola pengembang lokal," katanya.

Namun, Nasri melanjutkan, meski dikelola pengembang lokal, sebagian besar peralatan seperti turbin dan generator berasal dari China. Kesembilan proyek itu adalah PLTU Kaltim 2x60 MW dengan pengembang PT Indonesia Power dan PT Ridlatama Energy; PLTA Poso 160 MW dengan pengembang PT Poso Energy; PLTU Molotabu, Gorontalo 2x10 dengan PTB Energy Gorontalo; PLTU Nunukan, Kaltim 2x10 MW dengan PT Indonesia Power, dan PLTU Palu 2x10 MW dengan PT Indonesia Power.

Selain itu, PLTP Sarulla, Sumut 3x110 MW dengan konsorsium PT Medco Energy 37,5 persen, Kyushu Electric Power Company Inc (Jepang) 25 persen, Itochu Corporation (Jepang) 25 persen, dan Ormat International Inc (AS) 12,5 persen. Kemudian PLTU Minahasa 2x50 MW dengan PT Minahasa Power dan WTL dari Malaysia; PLTU Baturaja, Sumsel 2x100 MW dengan PT Priamanaya, PLTU Simpang Blimbing, Sumsel 2x113 MW dengan konsorsium PT Energy Musi Makmur dan Gou Hua (China).
************************************************************************

Angkat topi untuk Kepemimpinan PLN. Ternyata Pimpinan PLN melihat ke masa depan...jauh ke masa depan.., dengan akan didirikannya 9 buah PLTU. Memakai Tenaga Uap untuk menghasilan lstrik adalah suatu keputusan yang paling baik. Menghemat BBM dan ramah lingkungan. Menghemat BBM, karena untuk menghasilkan uap akan diperlukan batubara. Batubara didalam bumi Ibu Pertiwi akan tetap tersedia untuk masa yang lama sekali dibandingkan dengan minyak bumi. Ramah lingkungan, kemungkinan akan mencermakan lingkungan dipertipis. Lain halnya dengan minyak bumi (Diesel). Minyak Diesel harus hati-hati dalam pengangkutannya. Apalagi kalau harus lewat permukiman penduduk. Dengan tangki kereta api, kalau kereta barang itu anjlok, selain ada kemungkinan untuk meledak dan terbakar, akan sangat memakan kerugian.. Kalau diangkut dengan truck tangki, juga kalau tidak hati-hati, tabrakan dengan kendaraan lain atau masuk jurang juga kemungkinan besar truk tangki akan meledak dan terbakar.

Lain halnya dengan batubara, apalagi kalau batubara sebagai bahan bakar PLTU ini sudah diolah dari bongkah-bongkah batubara menjadi "pellets" seperti kerikil. Dengan demikian akan lebih gampang dalam pengangkutannya dari Tambang Batubara ke pelabuhan dan dari pelabuhan yang satu kepelabuhan yang lain. Atau kalau memakai jalan darat (kereta api atau truk) akan jauh lebih aman.

Rentunya untuk menghemat ongkos pengangkutan bahan bakar batubara ini, pabrik pengolahan batubara bongkah menjadi "pellets" harus dekat dengan Tambang batubara. Dan PLTU yang akan memakai batubara sebagai bahan bakarnya, lebih dekat dengan pabrik "pellets" ini lebih baik. Atau lebih dekat dengan sungai, lebih lagi.

Akan lebih baik, seumpamanya Pabrik Pengolahan Pellets dari Tambang Bukit Asam di Sumsel, tidak begitu jauh dari Kota Besar ( Palembang) namun juga tidak terlalu jauh dari Tambang Batubara Bukit Asam.

Malah kalau PLTU yang akan dibangun ini, terletak antara Palembang dan Bukit Asam, akan lebih bermanfaat terutama bagi penduduk setempat. Uap bekas dapat disalurkan kepada masyarakat untuk keperluan industri kecil. Uap dipakai sebagai tenaga penggerak mesin. Mesin gabah, mesin penggilingan kedelai atau penggilingan singkong kering menjadi tapioca starch.

Kemudian antara Bukit Asam, PLTU dan kota Palembang dibangun "Kanal". Kanal ini digunakan untuk mengangkut batubara bongkah dari Tambang Batubara ke Pabrik Pellets, dan mengangkut Pellets dari Pabrik ke PLTU. Dari kanal ini yang mana airnya diambil dari Sungai Musi digunakan bagi air yang dipanaskan untuk menjadi uap yang akan menggerakkan Turbine Uap. Karena terbentang Kanal dari Sungai Musi ke PLTU dan ke Pabrik Pellets dan juga ke Tambang Bukit Asam, air kanal dapat dipompa untuk mengairi lahan-lahan antara tempat-tempat iitu.. Dengan kata lain membuka jalan untuk Agrobusiness. Nenas Palembang yang terkenal manisnya akan terssedia banyak dan kemungkinan menjadi bahan ekspor ke Negara-negara lain. Demikian juga sayur mayur atau buah-buahan lain. Selain Agrobisnis, juga membuka jalan untuk empang-empang ikan air tawar.

Jadi secara singkatnya, Tambang Batubara Bukit Asam sebagai sumber tempat distribusi Pellets untuk daerah SumSel dan Tengah. Sedangkan Ombilin sebagai sumber tempat distribusi Pellets untuk SumBar dan SumUt..

Demikian juag untuk Kalimantan, KalTim sebagai sumber distribusi Pellets untuk Kalimantan. Kalau di Sumatra Selatan dibangun "Kanal" di Kalimantan sebaiknya dibangun jalan darat dari Balikpapan ke Pontianak.

Untuk Sulawesi Utara, daerah Bitung adalah tempat yang paling cocok. Air yang berlimpah-limpah dan pelabuhannya untuk menerima kapal-kapal yang mengangkut Pellets.

Untuk Sulawesi Tengah mungkin di Gorontalo atau Poso. Secara politis lebih tepat di Poso. Biar penduduk disana sibuk bekerja mencari nafkah di PLTU dan sebagi distributor pellets.

SulSel, mungkin didaerah Pare-Pare, dengan air yang berlimpah ( Ingat nama lain utk kota ini "gudang beras".

Kalau di Kepualauan Maluku, cukup dengan PLTU yang menghasilkanKiloWatt yang rendah. Karena kalau dibangun PLTU dengan Kilowatt yang besar, bagaimana caranya untuk menyalurkan tenaga listri itu ke pulau-pulau lainnya. Untuk Maluku diperlukan cara lain. Walaupun harsu kembali ke tenaga Diesel sebagai penggerak Generator. Namun bahan bakarnya bukan "Minyak Diesel ", tetapi minyak Jarak atau disebut Bio-Diesel. Disetiap Pulau yang berpenduduk, dibangun PLTMJ (Tenaga Minyak Jarak). Penduduk setempat dihibau untuk menanam pohon jarak. Biji jaraknya dijual kepada Pemda. atau kontraktor untuk dibuat minyak. Minyak Jarak dibeli oleh Pemda untuk digunakan sebagai bahan bakar PLTMJ. Dan juga dibangun dermaga untuk penyimpanan Bio-Diesel ini untuk dipakai oleh kapal-kapal patroli TNI-AL. Dalam hal ini TNI-AL menjadi pembeli hasil olahan biji jarak disetiap pulau.

Tentunya Pangkalan TNI-AL tidak disetiap pulau, cukup di pulau-pulau yang dianggap strategis. Bio Diesel dari pulau-pulau diangkut dengan kapal motor milik penduduk ke pulau-pulau dimana ada Pangkalan TNI-AL. KArena ada beberapa Pangkalan TNI-AL di Maluku, tentunya diperlukan juga bahan-bahan sayuran, buah-buahan atau alat-alat keperluan pribadi Abak Buah Kapal. Ekonomi mulai berputar. Digelendungkan dengan pembelian biji jarak dari penduduk oleh PemDa dan TNI-AL.

Juga sebagai Badan yang men"supply" PLTU-PLTU ini seyogianya diserahkan ke Badan Usaha penduduk setempat. Karena dengan demikian Badan Usaha ini juga diusahakan untuk membuat brickets untuk dijual kepada penduduk setempat sebagai bahan bakar di dapur. Brickets ini adalah sebagai bahan sampingan. Usaha utama adalah men"supply" PLTU ini dengan Pellets, dan membeli dan mengusahakan pengakutannya dari Tambang-tambang Batubara apakah Berbongkah atau berupa "Pellets".

Dengan cara ini ketergantungan Negara dan Bangsa akan BBM akan menurun. Dimana tentunya subsidi Pemerintah di bidang pengadaan BBM akan mengecil. Mungkin saja dana sisa dari pengiritan ini dapat dipakai untuk pembiayaan negara lainnya.


MangSi

Posted by MangSi at 9:53 AM 0 comments

Sunday, October 21, 2007

R and D TNI-AL

Mungkin saja usaha ini sudah berlangsung lama. Namun sifatnya memang harus "hush, hush", jadi kelihatan dan kedengarannya seperti tidak ada. Kalau memang ada, syukurlah.

Karena apa, TNI-AL harus mempunyai R & D yang mantap dan dikelola oleh pemikir-pemikir yang pintar-pintar dan mempunyai penglihatan yang jauh kemuka. Tidak lain karena tidak ada duanya didunia ini, suatu negara mempunyai perairan seperti Perairan Nusantara. Sudah tentu yang lebih tahu adalah Bangsa sendiri. Dan hanya ada satu negara yang tahu seluk beluk Ibu Pertiwi itu, ialah Negara Meneer dan Mevrouw di Eropah sana.

Langkah pertama, dikumpulkan Manula Indonesia, yang berumur diatas 65 tahun yang pandai Holland spreken. (mumpung masih ada, dimanfaatkan demi kepentingan Nasional). Mereka ini dikirim ke Univeritas Leiden dan ke Perpustakaan untuk Daerah Khatulistiwa ("Library voor the tropisch).
Mereka dikirim bergilir dalam group-group untuk masa 3 bulanan.

Persyaratannya tentu harus fasih bahasa Londo. Manula yang bukan anggota PDIP. Yang dimaksud PDIP bukannya Banteng Merah, tetapi singkatan dari manula mempunyai atau yang menuju ke arah..."Penyusutan Daya Ingat dan Pendengaran."

Kemudian tentu dan wajar kalau para Mantan anggota TNI-AL, diberi kesempatan terlebih dahulu.
Kemudian para Mantan Diplomat dari Deplu.
Kemudian Mantan PNS lainnya.

Dan tentu rakyat yang mempunyai andil dalam Perang Kemerdekaan, dan mereka yang berjasa kepada Ibu Pertiwi.

Juga para Mantan Londo (kalau masih ada), yang pernah menjadi Guru di Tanah Air yang sekarang menetap dinegaranya. Diutamakan kepada para Mantan bekas pegawai Perusahaan Pelayaran KPM.

Tugas utama, menterjemahkan semua buku-buku serta meng-copy Master Plan kapal-kapal KPM dahulu. Tentunya dengan bantuan Universitas disana plus para dermawan atau simpatisan Ibu Pertiwi diikut sertakan.

Para Mantan membaca buku-buku, kemudian di "tape" dalam bahasa aslinya dan bahasa Nasional.

Dipindahkan ke "CD" paling sedikit 6 kopi dan disimpan diperpustakaan, R & D Tni-AL. Dimana Perpustakaan ini terbuka untuk umum. Atau mengadakan usaha belajar bersama dalam satu kelompok yang dihadiri oleh Mahasiswa-Mahasisiwa dan tentunya para Cadet-Cadet AAL dan Akademi Pelayaran (ini yang dimaksud dalam postingan sebelumnya dengan judul "Dwi-Fungsi TNI-AL")

Tahap berikutnya merupakan suatu usaha R & D yang sangat penting. Dipandang dari usaha agar kelangsungan hidup kapal-kapal Armada, di masa-masa akan datang.

1. Penyelidikan yang mendalam mengenai "tenaga penggerak kapal".

Apakah tenaga penggerak Mesin Diesel atau Tenaga Penggerak Sistim lainnya (Uap Tekanan Tinggi, Nuklir).

2. Komponen-komponen kapal lainnya diluar persenjataan, yang cocok untuk kapal-kapal diperairan Nusantara. Murah, dapat dibuat didalam negeri, tidak begitu high tech tetapi betul-betul berfungsi Seperti, peralatan Listrik.

3. Sistim untuk menyalurkan tenaga dari Mesin Induk ke baling-baling, yang paling efisien dan tidak memerlukan ruangan yang besar. (sisa ruangan dipakai utk keperluan lainnya..Gudang Beras dan ikan asin....... dalam keadaan darurat apapun kalau perut diisi dua bahan ini, semangat tidak akan luntur).

4. Sistim kontrol Mesin Induk, apakah lebih baik diatur dari anjungan atau dengan sistim "telegraph".

5. Standarisasi komponen-komponen dikapal.

6. Sistim Perawatan, apakah dilakukan di kapal atau didarat dengan sisitim lain. Misalnya, alat penggerak bongkar - muat, apa dapat dipakaikan sistim unit, kalau rusak satu komponennya, seluruh Unit diangkat dibawa ke Pusat Bengkel pemelihraaan. Unit yang sudah diservis, dipasang ditempat yang sama. Demikiann juga dengan peralatan lainnya. (Generator Pembangkit Tenaga Listrik).

7. Kapal diawaki Bangsa sendiri, yang sangat penting dan sangat menunjang sekali akan semangat setiap Abk, ialah fasilitas Dapur (Freezer yang besar, Microwave, Oven, Coffe Makers.....enteng tak ada sangkut pautnya dengan persenjataan kanon, rockets...tapi siapa yang mengawaki persenjataan itu ?).

Kita tiru Londo jaman VOC, bangsa sendiri perutnya di bikin kenyang, inggih doro selama 350 tahun.

Akan dikupas nanti persoalan BBM. Tahun-tahun pertama atau kedua, ongkos BBM tak perlu dipikirkan. Tapi kalau Fregat, LPD, serta kapal-kapal buatan PAL diaktifkan......tahu-tahunya BBM ongkosnya mahal luar biasa. Ternyata harga pasaran naik. (Perusahaan Minyak itu siapa yang punya ?. Mungkin anteknya downunder (yang mengangkat dirinya menjadi Centeng Pacific), tak senang dengan perkembangan TNI-AL). Dalam hal ini kita harus, tidak ada pilihan yakni harus Mandiri.!

sn

Posted by MangSi at 9:56 AM 2 comments

Saturday, October 20, 2007

PENGUASAAN IPTEK , PENTING BAGI PEMBANGUNAN SISTEM HANKAM

Jakarta, Menteri Pertahanan Juwono Sudarsono mengatakan penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek) sangat penting dalam membangun sistem keamanan nasional dan pertahanan negara yang kuat. ==============================.................... Menhan mengatakan pembentukan sistem keamanan nasional untuk menyelaraskan peran lembaga pemerintah di bidang keamanan diperlukan sistem kelola keamanan yang dapat memberdayakan seluruh lembaga terkait berdasarkan kompetensi serta mekanisme pelibatan dan kewenangan masing-masing. Dengan demikian, tambahnya, sistem keamanan yang didukung oleh penguasaan iptek yang memadai dapat meningkatkan daya tangkal secara efektif untuk mempertahankan bangsa dan negara dari berbagai ancaman keamanan baik yang bersifat tradisional maupun non tradisional. Sumber: Antara ==================

Ada tiga Badan Usaha/Penelitian dalam Negeri yang harus dirangkul oleh DepHan, yaitu: 1. Pindad. 2.PT.PAL 3.BIDANG PENGINDERAAN JAUH - LAPAN Kerjasama ketiga
Badan Usaha/Penelitian ini harus dipererat, terutama dalam usaha Pengamanan Negara, khususnya Pengamanan Lautan Nusantara.
Mengingat luasnya Lautan Nusantara, Pengamanannya memerlukan bantuan dari seluruh warganegara serta Armada Pelayaran Nusantara, juga Armada Perahu Layar (Armada Semut).
Warganegara yang bermukim dipantai-pantai pulau yang berbatasan dengan Lautan Internasional. Dibangun Menara Mercu Suar. Dilengkapi dengan Lampu Suar sebagai alat Navigasi Kapal dilaut. Namun didalamnya dilengkapi dengan teropong elecronic mengawasi lautan lepas. Juga Menara Mercu Suar ini merupakan "Ground Station" dari Satelit khusus untuk keperluan Pertahanan Laut Nusantara. Setelah menerima aba-aba penting dari Markas Besar Pertahanan Laut dengan memberikan posisi "Benda Terapung" , yang mana keterangan ini diolah dari keterangan satelit.
Tugas Menara Mercu Suar untuk menyelidiki sepak terjang "Benda Terapung" ini dan melaporkan lagsung ke Markas Besar Pertahan Laut (MBPL). Apabila gerak-gerik "Benda Terapung" ini mencurigakan dan berusaha memasuki wilayah lautan NKRI, MBPL dengan segera memberi perintah kepada Squardon Tempur TNI AU untuk mengirim Jet Fighters untuk membayang-bayangi "Benda Terapung" ini. Dalam saat yang sama MBPL memberikan perintah kepada satuan Patroli TNI-AL untuk mengirim Kapal Patroli Kecepatan Tinggi ke titik temu.

Bagaimana kalau ada "benda Terapung" diwilayah lautan NKRI, ditengah laut terbuka.? Ini diperlukan kerja sama dengan Armada Perusahaan Pelayaran Nusantara dan juga dengan Armada Semut. Kapal-kapal ini dan Perahu Layar dapat meneropong nama serta bendera "Benda Terapung " itu. Dengan memijit satu tumbol, MBPL akan menerima keterangan posisi kapal pelapor. Tombol ini khusus untuk melaporkan "Benda Terapung" yang mencurigakan. Tombol lainnya, khusus untuk laporan posisi Kapal Pelapor dan bekerja sebagai "rambu", apabila kapal pelapor itu dalam keadaan darurat. Ini memudahkan Team SAR untuk memberikan pertolongan. Sehingga musibah seperti KM Tampomas dan Lion Air akan mendapatkan pertolongan secepat mungkin.
Penyelamatan jiwa manusia dapat lebih ditingkatkan. Satelit ini dapat juga dipakai sebagai alat melapor Kapal-kapal Asing yang betul-betul memasuki Lautan Nusantara untuk singgah di Pelabuhan Nusantara atau untuk meminta izin melewati Lautan Nusantara. ( Seperti Radar Tarffic Controller di Bandara, "melihat" keadaan lalulintas diudara dan untuk memberikan instruksi untuk mendarat)

Untuk keperluan sipil, mungkin satelit ini juga dapat dilengkapi dengan sistim komunikasi antar daerah.
++Untuk keperluan komunikasi Pemerintah Daerah dengan daerah-daerah terpencil (Di Malukau,Papua dan pedalaman Kalimantan).
++ Untuk keperluan Pendidikan. SD,SMP,SMA serta PT di daerah-daerah dapat mengakses Perpustakaan LIPI, Bappenas, LAPAN, atau antar PT (ITB, UI dan PT lainnya).
Sekarang jamannya Angkasa Luar, sudah waktunya Papan Tulis diganti dengan Monitor PC. (Pengadaan tenaga listrik untuk keperluan ground station maupun PC disekolah dah Balai Desa, dikupas dalam catatan lain).

Hal lainnya dimana DepHan perlu untuk berkecimpungan secara serious adalah dibidang R & D Energy, sebagai persiapan dalam menghadapi Krisis Energy dimasa yang akan datang. Suatu waktu ongkos Minyak Diesel untuk TNI AL akan menlonjak tinggi ( Perusahaan minyak di tanah air kepunyaan siapa ?), anggaran BBM akan meningkat, terpaksa mengirit dibidang lain. Korvette dan kapal-kapal besar lainnya, lebih sering didiikat didermaga dari pada berlayar dilautan lepas.
Sangat ironis jadinya, mata dan telinga yang canggih di angkasa, pelapor yang getol-getol di pantai maupun di kapal-kapal dagang /perahu layar, tapi tak ada yang mampu menghajar/menjotos.

sn

Posted by MangSi at 12:16 PM 2 comments

Friday, October 19, 2007

Mendapat berita bahwa feasibilty study Jembatan Selat Sunda akan memakan USD 100 Juta.Apakah dunia perkapalan Indonesia akan berpangkutangan ?Kalau JSS ini terealisir jelas akan mematikan pengangkutan laut (Kapal Ferry) Banten/Lampung, ribuan akan kehilangan pekerjaan dengan matinya kesibukan dikedua pelabuhan.Bagaimana Bapak-Bapak mencari sponsori dari semua pihakyang berkepentingan dalam dunia pelayaran Indonesia untuk mwngeluarkan isi koceknya untuk mengadakan study.

Dengan uang 100 juta USD, berapa Kapal Ferry baru yangdapat dibangun di galangan kapal PAL umpamanya.Apalagi kalau ongkos Rp91 trilyun walaupun dalam jangka waktu 10 tahun berapa banyak kapal Ferry yang baru dapat dibangun, juga dermaganya dikedua pelabuhan itu. Dermaga yang dirancang menggampangkan keluar/masuk kapal, juga keluar masuk penumpang dan kendaraan truck, bus dan mobil.

Mulai design kapal dengan daya muat penumpang dan kendaraan yang besar, sampai ke Mesin Induk yang murah dan efficient.

1. Kapal Ferry dengan haluan yang dapat dibuka sewaktumenurunkan/mengisi kapal dengan kendaraan. langsung kedermaga.

2. Mesin Induk yang efficient ( Steam Turbine,Generator Listrik dan motor listrik menggerakkanbaling-baling kapal. (Baling-baling ganda). Atau underwater electric motor coupled kepada baling-baling yang dapat bergerak horisontal. (memudahkan manuverinbgdalam pelabuhan).

3. Bahan bakar yang murah, yang dapat disediakan dipelabuhan dalam jumlah yang banyak dan ramah kepadalingkungan. ( Batu bara yang diolah menjadi PELLETS).
Mengingat jarak yang tidak jauh dari Bukit Asam serta diangkut melalui kereta api, mengurangi ongkos pengangkutan. Keuntungan yang lain, disamping membuat pellets, pabrik ini dapat juga membuat brickets utk pasaran umum (dapur rumah tangga, atau industri kecil seoperti membuat parang,cangkul sekop, pisau)

4.Jalur Banten/lampung dengan kapal yang modern dan cepat dapat merupakan "training ground" para perwira deck maupun mesin/listrik dari STIP, sebelum dilepas melayari jalur pelayaran lainnya di tanah air (pengalaman praktek).

5. Memperbanyak serta mempermodern kapal-kapal Ferry ini jelas akan menyerap tenaga. Lebih banyak kapal lebih banyak lambung yang di cet maupun di-coating.

6. Juga membuka peluang bagi PAL utk membangun Galangan Kapal di Lampung untuk menservis kapal Ferry maupun kapal lainnya. Atau mungkin saja tempatmembangun kapal-kapal coaster swasta. sehingga PALSurabaya dapat lebih memusatkan akan pembuatan kapalTNI-AL. ( Cilegon ??)


7.Kalau perlu Galanganan membuat kapal Ferry inipatungan dengan Galangan Kapal Luar Negeri. SepertiBelanda,Korea, Jepang, Taiwan,Jerman8. Untuk menarik mereka masuk dan menanam modal ditanah air, berikan mereka sebagai umpan. Galangan kapal Korea masuk, mendapat jatah semua trucks dan Bus di Sumatra merk Hyundai.

Dari Jepang, Kalimantan dan Sulawesi truck dan Bus khusus buatan Toyota,Nissan,Hino dsbnya. Papua, truk dan busnya buatanBenz.Untuk Belanda, Maluku merupakan bagiannya dengan ratusan coasters dan pembangunan dermaga disetiap pulau.

8. Points 1 s/d 7 ditanggung bebas Gempa dan Tsunami!. Sehingga investasi kalau mencapai
RP 91 trilyun tidak akan mubazir.

9. feasibility study Kapal Ferry ini disampaikan ke Bappenas. Masa iya, Gubernur Banten dan Lampung lebih pintar dari Bapak-Bapak di Bappenas.============ ==

Membayangkan Rp trilyunan, lupa mengenai ancaman Gempa dan Tsunami yang dapat terjadi sewaktu-waktu.

singgih nata

Friday, April 06, 2007

Blog ini masih hidup.

Walaupun absen setahun lebih, MangSi akan kembali bercerita. Maklum sudah manula, sensitip kena penyakit. Lagipula saya ini mengendap penyakit "Post Traumatic Stress Disorder" (PTSD).
Suka kambuh tiba-tiba. Bulan yang lalu, Maret 2007, MangSi berumur 67 tahun. Bukannya kawakan blogger, memang mulai mem-blog-nya sudah terrlambat. Sebagai jalan keluar dalam usia tua tetapi ingin muda. Kahn lebih baik mengeluarkan isi otak yang dikepala atas, dari pada mengenluarkan otak dikepala bawah seperti Aa. He..he..he... padahal engga laku, sudah ketuaan. Sudah itu mencari jutaan dollar yang pertama tak berhasil terus. Saya tinggalakan saja impian itu, sekarang sedang berusaha untuk mencari jutaan yang kedua. Apa mungkin, yah ??
Sampai posting y.a.d.
Merdeka tetap Merdeka

Monday, December 05, 2005

Joe Ragan

Biasanya setiap hari pulang kerumah dari tempat kerja, aku selalu berjalan dari stasion Subway langsung kerumah. Tapi hari itu, mungkin karena hari bagus, suhu udara limapuluhan derajat, aku berjalan santai. Aku berhenti didepan kedai kopi, terasa ada keinginan untuk minum kopi dan makan kueh.
Kubuka pintu kedai kopi, kucium bau kopi segar mengisi seluruh ruangan .Kulihat ada beberapa orang antre didepan counter.
Begitu satu langkah aku berjalan masuk, mataku bertemu pandang dengan mata seseorang priya sudah berumur. Aku mengangguk dan diapun ikut mengangguk. Dari raut mukanya, pasti dia orang setanah air atau berasal dari Pilipina.
Mudah-mudahan saja Bapak itu orang sekampung, aku menyapanya dengan memperkenalkan diriku.
"Mengenalkan, nama saya Waluya. kalau teman-teman sih memanggilnya Yo-yo" kataku sambil mengulurkan tangan untuk berjabat tangan.Tangan saya diterimanya, dan kami bersalaman.
" Nama saya, Ragan, .....Joe Ragan " sahutnya dengan singkat.
Dalam hati saya berkata, hebat juga nih kawan satu ini. Mendengar namanya sih 100% nama Amerika. Tetapi melihat wajah dan badannya, cocok kalau namanya, Sami'un atau Darmawan. Dari logatnya saya dapat menerka ini asal Bogor, Depok atau Bandung. Hidungnya disebut mancung yah tidak, disebut pesekpun tidak. Kulitnya agak kekuning-kuningan, mata kelihatan agak sipit. Mungkin ada keturunan Cinanya, tetapi darah pribuminya kelihatan lebih kental.
"Sudah lama menetap di Amerika, Pak" tanyaku mencoba menjalin suatu percakapan dengannya.
"Sudah, hampir separuh abad" sahutnya.
Kemudian kami berjalan mendekati counter, dia memesan kopi dan beberapa biji Donut. Ada yang chocolate covered, glazed, jelly dan old fashion. Dibawanya semua Donut itu kemeja dimana kita akan duduk.
" Hayo, mari kita duduk bersama dan makan “donut” -nya, Anda beli kopi saja, donut-nya sudah saya beli" katanya.
” Kita duduk dimeja dekat jendela” ucapnya seolah-olah memberi komando.
Walaupun namanya 100% nama Amerika, saya percaya bahwa jiwa dan tabiatnya 100% melayu. Ramah tamahnya dan gaya berkatanya menunjukkan bahwa Bapak ini pernah masuk sekolah tinggi atau Pesantren.
Dengan kopi ditangan kanan dan bungkusan gula dan napkin ditangan kiri, saya menuju kemeja pilihannya.
"Silahkan, yang mana Anda mau, ambil duapun tidak apa-apa" katanya sambil menyeruput kopinya.
"Terima kasih Pak, saya ambil ini yang coklat kelihatannya enak" jawabku mencoba agar suasana menjadi ramah. Sehabis dia meminum kopinya, dia menengok kearah pintu masuk. Seorang priya manula membuka pintu dan masuk dengan perlahan-lahan. Jarak dari pintu masuk ke counter ada kira-kira lima meter, orang tua itu berjalan dengan perlahan sekali dibantu oleh tongkat. Dia berdiri dibelakang seorang wanita menunggu dengan sabarnya sampai gilirannya dilayani. Dengan tidak sadar kami berdua mengamati si kakek itu mulai dia masuk kekedai kopi ini, berjalan ke counter, membeli dua donut dan kembali keluar.
“Bung Apa melihat tadi si kakek masuk dan membeli donut” tanyanya.
“ Iya, saya perhatikan. Tetapi kelihatannya biasa saja” jawabku dengan tenang.
Dia meminum kopinya dengan hati-hati, rupanya kopinya masih panas.
“Orang disini semuanya kurang ajar” tiba-tiba dia berbicara.
“Karena apa begitu, Pak ?, apa itu kesimpulam Bapak mengenai orang-orang disini setelah menetap separuh abad lebih ?” tanyaku.
Barangkali si Bapa ini hidupnya sendirian, tak ada sanak saudara. Tiada orang yang mendengarkan keluh kesahnya, atau berbicara bertukar pikiran.
“ Ya tidak semuanya, tetapi itu yang didepan si kakek itu, lha menawarkan tempatnya diambil agar dia dapat dilayanani dengan segera.” ucapnya dengan nada agak marah. Dia menggeser kursinya, kemudian berdiri dan berjalan kearah counter mengambil beberapa helai napkins. Setelah kembali ketempat duduknya, dia melanjutkan pembicaraanya:
” Betul tidak Bung, khan si kakek itu hanya membeli dua donut saja, berapa lama sih, lima menit tidak sampai ” katanya dengan kesal..
Saya hanya tersenyum sambil mengangguk, mengiyakan apa yang dia katakan.Dia menghela nafas dalam-dalam, kemudian dia berkata:
” Dalam masyarakat modern, anak mudanya tidak menghormati orang tua”.
Dia menyeruput kopi panasnya, dan sekali-sekali menggigit donutnya dan menelan dengan perlahan-lahan, seolah-olah menikmati donut yang sepertinya sudah lama diinginkannya. "Jangan menjadi tua disini Bung, kalau bisa menghabisi hari tua lebih baik dikampung” katanya dengan suara agak keras.
Rupanya dia khawatir apa yang akan terjadi dengannya dikemudian hari. Mengingat diapun sudah berumur, dan dengan keterangannya itu saya sekarang tahu persis bahwa si Bapak ini hidup sendirian. Kesepian itu rupanya karena kehangatan kepada orang lain sudah lama dikubur dalam-dalam dihatinya, mungkin pernah mengalami kekecewaan. Patah hati atau ditinggal mati kawan karibnya.
Saya hanya menjawab singkat :
” Oh begitu Pak, karena apa Pak ?” saya bertanya kembali.
Sengaja saya menjawab dengan singkat agar banyak waktu untuk dia berbicara dan mengeluarkan isi hatinya.
“Mau donut lagi Bung, atau mau saya pesankan sandwich atau croissant” tanyanya padaku.
“ Oh tak usah Pak ini sudah cukup banyak,” jawabku.
“Tapi kalau Bapak mau pesan kopi lagi silahkan, saya masih banyak waktu, belum mau pulang” kataku memberikan kesempatan bagi dia untuk lebih lama duduk dikedai Donut ini.
Dia berdiri dan memesan kopi lagi dan kembali duduk ditempat semula. Setelah dia mengocok-ngocok kopinya dengan Sweet and Low pengganti gula. Disitu saya tahu bahwa si Bapak ini setidak-tidaknya mempunyai penyakit gula. Juga rupanya dengan memesan kopi lagi, dia sudah merasa tidak kaku lagi untuk meneruskan percakapannya dengan saya.
Tawaranku untuk membeli kopi lagi diterimanya bahwa saya ingin mendengarkan ceriteranya lebih lanjut.
“Lebih baik kalau sudah tua pulang kampung” katanya singkat.
“ Disini kalau sudah tua dianggap tak berarti, oleh masyarakat. Seperti si kakek tadi, tiada ada orang yang perduli” dia berhenti berbicara dan mengambil nafas panjang..
” Juga bagi anak cucu merupakan beban saja. Kadang-kadang dibuangnya di Nursing Home jauh disana diFlorida" ujarnya pula dengan rasa cemas, sepertinya akan terjadi dengan dia.
“Hidup sebagai “veggie” hanya menunggu waktu”, keluhnya sambil memilih donut yang mana yang akan dia makan.
Tersisa yang glazed dan yang old fashion dimeja.
“Tapi anehnya, kalau waktunya hampir datang, buru-buru diselamatkan, masuk Hospital di Emergency” ucapnya dengan penuh keseriusan.
Aku tidak berbicara mengiyakan, hanya aku tatap mukanya menunggu apa yang akan diucapkan selanjutnya.
“Segala peralatan yang mutakhir dipakai untuk menyelamatkannya agar kembali bernafas. Setelah bernafas dikembalikan ke kamarnya, disuruh bernafas pakai mesin.” ujarnya lagi.
Dia menghela nafas dalam-dalam, seolah-olah dia membayangkan keadaan seperti itu akan terjadi dengan dirinya.
“ Orang sudah sakitan, napas seninkemis, umurpun sudah sembilan puluhan masih juga diselamatkan. Barangkali kalau sudah mati, tidak dapat menagih ongkos tinggal kepada keluarganya atau kepemerintah.” katanya dengan nada sinis.
Dia berbicara dengan semangat, seperti sungai yang dibendung kemudian bendungannya pecah, air mengalir dengan derasnya.
Kami berhenti berbicara, saya memikirkan kata-katanya itu memang ada benarnya juga.
Si Bapak rupanya merasa kaget berbicara dengan leluasa dengan saya, padahal kami baru berkenalan kurang dari setengah jam. Buru-buru dia menghabiskan donut yang ditangannya dan disusul dengan meminum kopi.
Rupanya dia baru sadar bahwa dia berbicara dengan orang lain yang dia tak kenal sama sekali. Juga aku baru sadar nampaknya dia agak gugup, untuk membuat suasana lebih akrab lagi, saya memulai percakapan dengan bertanya:
“Kapan Bapak akan pulang ke tanah air ,Pak. Ada rencana untuk pulang” tanyaku lagi.
“ Oh iya, begitu mendapat social security umur 65 akan saya pulang ke kampung. Dan uangnya akan saya ambil diKedutaan Amerika di Jakarta” sahutnya.
“Saya akan bayar orang untuk mengurus saya siang malam. Saya kira saya sanggup membayar beberapa orang “ sahutnya dengan serius sekali.
“Biarlah menjadi orang asing dikampung sendiri, dari pada menjadi orang asing dinegara asing”katanya.
Kemudian dia membersihkan meja dari sisa-sisa donut yang terhampar dimeja, dia berdiri menuju ke tong sampah untuk membuang coffee cup dan kertas napkin. Dia kembali duduk ditempat semula.
” Kita ini sudah mempunyai peradaban ribuan tahun sebelum orang-orang ini tahu beradab. Lihatlah, Candi Borobudur, Candi Prambanan itu suatu bukti. Tapi karena lupa akan kebudayaan sendiri dan mencontoh peradaban Barat yang mementingkan uang saja, begitulah, tidak disini tidak ditanah air, dikota-kota besar dimanapun sama saja.” katanya dengan suara seakan-akan memberi nasihat sebagai seorang Bapak kepada anaknya.
“ Saya akan pulang jauh digunung, jauh dari keramaian kota” katanya dengan nada datar.
“ Wah sudah malam Pak, saya permisi mau pulang. Besok harus bekerja pagi-pagi.” ujarku memotong pembicaraannya.
Kami bersalaman berpisah, dia mencatat nama , alamat dan nomor tilponku. Juga aku mendapatkan keterangan yang sama. Suatu waktu akan aku hubungi lagi untuk minum kopi dan jajan kueh-kueh.
Akan aku ajak ke Kam Lun, disana banyak pilihan kueh-kuehnya.Dalam perjalanan pulang kerumah, aku berpikir rupanya dalam hidup mengembara ini suatu waktu akan teringat akan kampung sendiri. Mungkin kata “tanah tumpah darah” mempunyai arti yang kuat didalam hati dan benak seseorang. Apalagi kta sebaga seorang timur, kata orang tua dulu-dulu, dimana jabang bayi dikubur kesitu tempat kita berpulang.
Teringat kata-kata Bapak itu, hidup sebagai “veggie”, sendirian, tak ada sanak saudara, membuat bulu diseluruh badan berdiri.


*****oOo*****

Friday, September 02, 2005

Bermimpi

Wah enak sekali yah menjadi koran, dipagi hari yang pertama kali dipegang, sambil minum kopi dipegangi terus “ kata seorang istri pada dirinya sendiri, melihat suaminya asyik membaca koran pagi.
“Enak apa, Anda tidak mengetahui apa yang mereka lakukan terhadapku sebelum sampai dimeja makan ini “ keluh si Koran.
“Berminggu-minggu aku ditumpuk-tumpuk digudang yang gelap dipelabuhan. Sebelumnya berminggu-minggu didalam palkah kapal barang saling tindih bertindih” kata si Koran melanjutkan.

Eemh, serious sekali wajah suamiku memandang koran didepannya. Diselangi dengan senyum simpul ” kata si istri sambil menarik nafas dalam-dalam.
“ Nah, dengar baik-baik, dari gudang aku diseretnya keatas truck, lantas dibelitnya aku dengan rantai. Lihatlah sampai berbekas, terpaksa lembaran pertama menjadi sampah karena tak pantas untuk menjadi halaman koran, walaupun untuk halaman advertensi 'help wanted' sekalipun” kata si Koran dengan geramnya.
“ Tidakkah Nyonya tahu bahwa aku dikulitinya helai per helai kemudian diperasnya melalui mesin penggiling. Disitu seluruh badanku dicoreti dengan tinta hitam, ada kalanya dengan tinta merah atau biru.” kata si Koran dengan nada tegang.
“Itu belum selesai, dipotong-potongnya aku menjadi halaman-halaman. Lantas disusunnya satu persatu, bagian per bagian.” keluh si Koran dengan nada jengkel.

Aduh, dia membolik balik halamannyapun dengan rasa penuh kasih sayang” kata sang istri bangga.
“ Sudah tentu seharusnya begitu. Aku memang berhak untuk mendapat perlakuan seperti itu. Bagaimana tidak, setelah disusun-susun, aku diikat dengan tali, keras sekali. Bagian yang paling luar malah robek, pastilah akan duduk dirak di Newstand sampai yang terkahir, sebelum dibeli orang. Ada kalanya tak sampai diatas meja makan, sebahagian sudah masuk di tong sampah. Padahal koran hari ini, baru dicetak tadi malam. Sore hari sudah menjadi sampah. Jadi wajarlah kalau yang beruntung sampai dimeja makan mendapat pelayanan yang sedikit istimewa.” komentar si Koran tak habis-habisnya.
“ Masih juga merasa iri hati dengan aku diperlakukan begini istimewanya ?” tanya si Koran.
“ Coba pikirkan, waktuku hanya paling lama satu hari disenangi orang, dipegang, dielus-elus setiap lebar halamanku, setelah itu menjadi sampah” kata si Koran melanjutkan keluh kesahnya.
“ Agak beruntung kalau aku dinegara ketiga, masih ada harga diriku. Paling tidak laku dijual kiloan oleh Nyonya rumah. Kalau jatuh dipasar masih diperlakukan istimewa sebagai pembungkus apa yang dijualnya. Lebih-lebih kalau aku jatuh ditangan orang miskin pencari puntung rokok. Aku mendapat perlakuan lebih istimewa lagi, aku dipajangnya diseluruh dinding gubuknya. Setiap dia pulang, diejanya kalimat kalimat “Head Lines”ku, aku sungguh merasa bersyukur dapat menjadi guru simiskin yang baru melek huruf” ujarnya dengan rasa bangga.

Oh, sudah selesai rupanya suamiku membaca korannya. Sekarang dengan rapihnya dilipat-lpat seperti semula. Sungguh kelihatan dia itu penuh dengan kasih sayang “ kata si Istri kesenangan.
“ Tunggu dulu Nyonya, aku belum selesai dengan ceriteraku. Masih ingin mengetahui apa nasibku setelah menjadi barang loakan ?” tanya si Koran.
Tanpa mendapat jawaban si Koran terus berrkata lagi:” Apa sudah merasakan kalau aku dijual oleh tukang loak dan dibeli oleh penjual ikan ?” kata si Koran.
“Aku dibuatnya untuk membungkus ikan-ikan yang anyir itu. Itu belum seberapa, kalau jatuh dirumah miskin dinegara yang ada empat musim lebih sengasara lagi, aku digunting- guntingnya menjadi empat persegi sebesar telapak tangan dan disimpannya dikamar mandi dekat tempat buang air besar, dekat WC!!. Nyonyah tahu apa terjadi dengan guntingan-guntingan kertas koran itu ?” teriak si Koran dengan geramnya.
“Yang lebih parah lagi, di Cina Selatan atau di Vietnam, setelah digunting-gunting aku dibawanya jalan-jalan kekebon, setelah selesai dipakainya, aku dikuburnya didalam tanah dengan apa yang dibuangnya. Bayangkan dikubur bersama dengan segala apa isi perutnya! Masih juga Nyonyah merasa ingin menjadi koran seperti aku ???” ucapnya pula.

Seperti tersentak dari lamunannya, si istri sambil melirik kepada suaminya berkata dalam hatinya :” Aku merasa beruntung menjadi istrinya, koran hanya dipegangnya sekali sehari, tapi aku tahu bahwa aku ada dihatinya selamanya
Dengan suara halus si istri berkata: “ Mas, kopinya sudah habis, apa mau diisi lagi ?”
Ah sudah cukup untuk pagi ini Jeng. Kopi merk apa yah, kho kopinya enak sekali hari ini. Atau, tadi waktu membikinnya penuh dengan Tender Loving Care barangkali yah.” sahut suaminya sambil bersenyum manis, menggoda.
Oh, Si Mas ..bisa aja …ah” sambut si istri dengan riangnya dan terlihat pipinya agak kemerah-merahan. Dengan cepat diambil .cangkir kopi dan dibawanya ke dapur.
Didapur, tak sadar si istri menyanyikan nyanyian si Louis Amstrong……What a Wonderful World…….
Si Koran berkata perlahan-perlahan:” Dasar manusia, yang dilihat dan diingini hanya yang enak-enaknya saja . Mau senang tak mau susah, mau gembira tak mau sedih, sudah dilebihkan_NYA masih juga tidak puas. Memang manusia itu tak tahu diuntung”


=====+++=====

Thursday, August 25, 2005

Masuk akalkah ?

Warning.


Kata “warning” ini selalu menempel diingatan saya. Sewaktu remaja saya sering disuruh oleh Ayah saya untuk membeli tembakau. Beliau suka merokok tembakau yang digulung sendiri. Dan salah satu kesukaannya ialah tembakau yang dibungkus dalam pembungkus warna biru. Ada tulisan diluar bungkusanya dalam warna hitam Bayangkan huruf hitam dicetak dalam kertas warna biru, susah sekali untuk membacanya. Ditambah pula dengan hurufnya yang kecil-kecil. Satu-satunya yang dicetak dengan huruf besar-besar ialah kata “warning” itu. Sehingga tembakau yang bungkusnya warna biru itu terkenal namanya tembakau warning.

Merk sebenarnya dari tembakau itu saya kurang tahu dengan pasti. Kalau tidak salah disebutnya tembakau shag atau tembakau shack, apakah buatan Belanda atau Inggris kurang tahu betul. Dibawah kata warning dengan huruf besar itu ada kata-kata lainnya. Kalau tidak salah kata-kata yang menyatakan “ Barang siapa yang meniru atau memakai kata anu dan memalsukannya akan dituntut dimuka hakim” kira-kira begitulah isi dari kalimat-kalimatnya. Baru setelah dewasa mengerti bahwa kata “warning” itu kata peringatan bukannya nama merk tembakau itu. Namun sudah terlanjur menjadi nama merk, terutama dikalangan pemakainya maupun penjualnya seperti penjual rokok di kaki lima.


Arti kata “warning” ini tentunya semua maklum apa maksudnya. Namun kita sebagai manusia sering sekali melupakan atau menyesepelekan dalam mengartikan kata “warning” ini. Tidak disadari bahwa “warning” yang datang dalam segala bentuk dan jalannya sampai kepada kita itu sebetulnya adalah demi untuk kebaikan diri kita sendiri.

Contohnya yang paling gampang dan sering kita jumpai. Kalau celana sudah kekecilan pinggangnya, “ warning” ini kita artikan bahwa sudah waktunya untuk membeli celana baru yang lebih besar ukurannya. Kita beli celana baru, selesai perkaranya. Tetapi pernahkan kita mengartikan “warning” itu adalah bahwa celana kekecilan pinggangnya itu menandakan sudah waktunya kita untuk “slow down” apa-apa yang kita makan. Atau mulai mencari tahu kira-kiranya makanan apa yang harus dikurangi.
Dan juga “warning” bisa diartikan bahwa badan kita berteriak bahwa “kamu terlalu banyak makan makanan yang mengandung lemak” atau “ kurangi makanan yang banyak gulanya “ atau “ coba diperbanyak makan sayuran segar !!” Apakah kita pernah berpikir begitu ??

Contoh lainnya.
Kalau kita membaca dan mata mulai mengeluarkan air mata. Dengan segera kita berpikir “ah ini kurang terang” Kita ganti lampu dari 75 watts menjadi 100 watts upamanya. Dan kita kembali membaca. Mungkin “warning” ini sebetulnya memberi peringatan kepada kita bahwa sudah waktunya untuk datang berkunjung ke dokter mata. Mungkin sudah waktunya mengganti lens kaca mata kita. Atau ada tanda-tanda bahwa tekanan pada bola mata menjadi naik, sehingga keluar air mata.. Hanya seseorang yang mempunyai proffesi dibidang itu yang dapat memberikan saran yang benar.

Contoh lain.
Setiap gajihan, setelah membayar semua tagihan kok tidak ada sisa uang untuk ditabung. Pikiran kita dengan segera mengambil kesimpulan bahwa perlu mencari pekerjaan lain dengan bayaran yang lebih tinggi. Atau mencoba meminta naik gajih. Pernahkah ada pikiran bahwa mungkin ini karena saya boros ?? Atau terlalu banyak pengeluaran yang seharusnya tidak perlu. Atau mungkin harus mulai mencari jalan untuk menurunkan pengeluaran ?? Apa betul-betul diperlukan mempunyai SUV 8 Cylinders yang membakar 1 gallon bensin untuk 14 miles ?? Padahal yang mengendarai hanya Anda dan istri saja ?? Kalau kendaraan Anda itu dipakai untuk ketempat pekerjaan, apakah lebih ekonomis memakai kendaraan yang 4 cylinders yang membakar 1 gallon untuk 30 miles ? Mengingat harga bensin dewasa ini, dan kemungkinannya akan naik kalau ada perang ? Mungkin dengan mengganti dari mobil lux ke mobil ekonomis dapat menghemat ongkos asuransi ?? Apakah “life styles” sekarang ini lebih penting daripada menabung untuk keperluan dihari tua ???
.
Dan banyak lagi “warning” lainnya yang kita salah mengartikannya. Apakah pernah terpikirkan adanya pepatah “Bersedia payung sebelum hujan “ kaitannya dengan kehidupan sehari-hari ??

Kalau kita minum air es atau air dingin, begitu air masuk dimulut terasa nyeri disalah satu gigi. Apa yang kita perbuat? Stop minum air es ganti dengan air teh panas atau air teh hangat. Memang tidak terasa sakit lagi. Kita sepelekan “warning” itu. Beberapa bulan kemudian lubang digigi membesar masuk makanan kena infeksi. Perlu dicabut, terpaksa berkunjungke Dokter gigi. Kalau semua dalam keadaan baik dan gigi hanya perlu dicabut, sukurlah. Bagaimana kalau lebih parah lagi, perlu dioperasi root canal umpamanya ? Selain sakitnya luar biasa, ongkosnyapun melambung pula. Karena apa karena salah mengartikan dari “warning” itu.

Kepala terasa sakit kemudian pundakpun terasa tegang. Ambil jalan gampang, minum Advil atau Anacin. Mungkinkah “warning” itu menandakan bahwa Anda stress dipekerjaan atau keadaan dirumah yang menjadi sebabnya ? Apakah lebih baik dalam jangka panjang untuk menyelesaikan persoalan itu, sebaik-baiknya dicarikan jalan keluar daripada menelan Anacin atau Advil ?? Tentunya kalau Anda mengartikan yang sebetulnya “warning” yang diterima itu.

Apa pernah pula terpikirkan bahwa sekolah tinggi-tinggi, dan belajar menyelami Agama sedalam-dalamnya itu, adalah dalam rangka untuk mempersiapkan diri dalam mengartikan arti yang sebenarnya dari “warning” yang kita terima selama hidup ini?
Serta mengerti dengan pasti dari mana datangnya “ warning” ini ? Juga agar kita dapat mengerti apakah ini betul-betul “warning” yang sebenarnya atau yang palsu ?“
Atau dengan kata lain, berusaha lebih dalam mengasah kepekaan akan tanda “warning” ini yang diterima oleh badan maupun pancaindera kita.
Coba pikirkan dalam-dalam.

Monday, August 08, 2005

Waktu itu adalah uang.



Begitulah peribahasa disini. Waktu itu adalah uang. Memang peribahasa ini betul-betul merupakan sebahagian dari kehidupan penduduk kota Metropolitan NYC ini.
Coba Anda perhatikan kalau Anda berjalan-jalan di Midtown Manhattan atau di Wall Street Area di Downtown. Manusia yang berjalan bergegas-gegas, wanita dan priya tidak ada perbedaannya. Hampir semua yang berjalan kaki, apakah yang berjalan menenteng briefcase atau shopping bags, mereka berjalan-jalan seperti serdadu. Apa berjalan bergegas ini karena kebelet kencing karena udara dingin, atau merasa kedinginan barangkali.

Tapi dimusim panas pun mereka itu tetap berjalan bergegas-gegas. Tentunya lain halnya dengan turis-turis. Anda dapat menebaknya dengan segera mana yang turis mana yang bukan. Turis-turis kalau berjalannya menadahkan mukanya keatas, terpesona dengan gedung-gedung yang tinggi. Kecuali turis asal Jawa, terutama yang dari Solo. Dapat segera terlihat bahwa mereka itu turis Indonesia asal Solo. Tahunya, ….ialah dari cara mereka berjalan kaki itu, kelihatan mereka itu berjalanya dengan emat-ematan, menikmati apa yang sekelilingnya juga menikmati cara mereka berjalan.

Rupanya sebagai akibat dari peribahasa ini, yaitu serba bergegas, bermunculanlah segala macam Food Vendors dipinggir jalan di Manhattan, terutama di Midtown dan Downtown
Penjual hot dog, shishkebab (sate yang kerat dagingnya sebesar kepalan tangan bayi),
falalel (makanan TimTeng), Tacos (makanan Mexico) malah ada goreng ayam dengan nasi. Juga akhir-akhir ini banyak yang memasang tanda dengan tulisan “halal meat”. Dapat dimengerti karena sebahagaian besar penjaja makanan dipinggir jalan ini adalah asal dari Mesir. Ada penjaja hot dog di Canal Street dekat Chinatown asal dari tanah air, mungkin dia satu-satunya Food Vendors asal Melayu. Juga banyak langgananya adalah supir-supir taxi asal Bangladesh. Hanya food vendors yang berjualan kari kambing belum ada, tetapi mengingat jumlahnya para pendatang dari India, Pakistan dan Bangladesh, mungkin suatu hari akan menemukan yang berjualan kari kambing ini.

Nah arti dari time is money ini sering diartikan dan dipraktekan dengan sebenarnya, seperti contoh dibawah ini.
Suatu hari saya melihat Bung Bego masuk kedalam mobilnya yang diparkir dipinggir jalan. Setelah mobilnya distarter dan mesin sudah jalan, tetapi tidak bergerak dari tempatnya,. Lima menit sudah lewat, sepuluh menit sudah lewat masih juga tetap ditempat. Karena khawatir mungkin memerlukan bantuan, saya datang menghampiri dan bertanya , :”Mas, apa khabar Mas. Kok dari tadi tidak berangkat-berangkat, ada apa dengan mobilnya perlu bantuan ?”
Dia menjawab” Oh, tidak apa-apa dengan mobil saya. Saya tidak pergi dari sini karena mau menghabiskan waktu. Itu di meterannya masih ada 15 menit lagi !”
“Oh, begitu saya kira mobilnya mogok “ saya menyahutinya. Nah ini namanya betul-betul sudah Americanized, well tidak dapat disalahkan rupanya Bung Bego…likes to have his money worth !!

Kejadian lain, seperti biasanya didepan Supermarket itu ada mainan anak-anak , berupa mobil-mobilan atau Disney characters. Setelah anak didudukan didalamnya, kemudian memasukkan uang logam 25 sen dan mobil-mobilan atau yang berupa Disney characters bergoyang-goyang disertai dengan lagu anak-anak. Mungkin untuk 5 menit 7 menit lamanya. Pada suatu hari saya melihat didepan Supermarket itu, didalam mobil-mobilan duduk seorang Ibu.
Saya bertanya :” Lho, Bu kok sendirian mana anaknya ?” saya bertanya.
Dia menjawab:” Itu sama Bapaknya lagi dipangku, rupanya dia ketakutan waktu didudukan disini malah menangis kejer.”
Kemudian saya berkata:” Oh jadi Ibu menggantikan anaknya “
Dia menjawab:” Iya, habis masih banyak waktunya, sayang khan kalau tidak dimanfaatkan”

Suatu contoh lagi….I want my money worth !!!
Suatu contoh,…time is money…..semenit dua menit ada artinya..apalagi kalau seperempat jam !!
Jadi kalau Anda betul-betul…you want your money worth, coba naik Subway boleh seharian ke Brooklyn ke Bronx asal jangan keluar dari station seharian dapat menikmati seharga $ 2.00, harga dari karcisnya.. Di musim dingin tak akan kedinginan, semua gerbong ada alat pemanasnya. Demikian juga di musim panas, semua gerbong ada A/C-nya.
Ini hanya dapat terjadi di NYC, apalagi yang menceriterakannya MangSi..he…he…he.!


MangSi


Thursday, August 04, 2005

Hadiah istimewa ulang tahunku



“ Ayah, hadiah apa yang Ayah inginkan dihari Ulang Tahun yang akan datang ini?” tanya anak perempuanku yang paling kecil.
“ Nanti dulu, sayang, itu adalah kalimat yang selalu datang dari Ayah selama bertahun-tahun ini kepadamu” sahutku berkelakar.
“Ya, saya tahu, tetapi mulai tahun ini, saya yang akan mengucapkannya setiap akhir bulan Maret kepada Ayah” ucapnya dengan tegas dan penuh kepercayaan.
Nampak sinar matanya cemerlang tanda suka hati, juga tanda bahwa kata-kata itu datang dari lubuk hatinya yang masih bersih itu. Kukerlingkan mataku kemuka Ibunya yang duduk disebelahku.Terlihat matanya mulai berkaca-kaca. Yang tak lama kemudian kulihat dia meneteskan sebutir air mata, membasahi pipinya yang kuning langsat.
Aku lanjutkan percakapanku dengan anakku:” Dengan alasan apa bahwa Ayah tidak dapat lagi mengucapkan kalimat itu” tanyaku padanya..
Dengan sekuat tenaga aku perlihatkan muka seolah-olah seperti tidak mengerti. Padahal, air mataku sudah sampai dipinggiran bola mataku.
“ Well, saya sudah mendapat penghasilan dari pekerjaan sambilan untuk biayaku sehari-hari.”, ujarnya polos.
Sambil memainkan rambut diujung kepangnya, dia lanjutkan dengan tersendat-sendat. “Saya sudah mendapat scholarship dari sekolah. Untuk tahun-tahun yang akan datang” ujarnya. Kemudian dia menghela nafas dan melanjutkan percakapan kami itu. Istriku yang duduk disampingku kelihatannya seperti cacing kepanasan, duduk dengan seba salah.
“ Ayah dan Ibu tak usah khawatir mencari uang untuk membayar uang kuliahku” ujarnya dengan penuh kebanggaan akan dirinya. Istriku membalikkan badannya, mengulurkan tangan mencari kotak Kleenex,mencabutnya beberapa helai dan dipakainya utuk membersihkan hidungnya.
“ Saya pikir sudah waktunya Ayah dan Ibu untuk bersenang-senang., jalan-jalan ke Disney World” ujarnya sambil tersenyum.. Percakapan kami terhenti sebentar, menunggu truk PemadamKebakaran lewat dengan suara sirine yang memekakkan telinga. Kemudian dia melanjutkan nya dengan suara terdengar agak perlahan.
“Satu hal lagi, bukankah sudah waktunya untuk Ayah berhenti bekerja untuk pensiun” ucapnya dengan nada serius.
Dia terhenti sebentar, rupanya sedang mencari kata-kata yang pantas. Seolah-olah takut kata-katanya akan menyinggung hatiku, dengan suara halus dia meneruskan percakapannya.
“ Bekerja 12 jam lebih sehari, 6 hari seminggu. Apakah Ayah tidak merasa bosan dan kesal seharian menjadi bagian dari lalu lintas kota NYC yang terkenal paling parah sedunia ?” ucapnya pula.


Terlihat raut mukanya agak cemas, karena sekarang dia mulai menyinggung pekerjaanku, yang dia tahu betul bahwa aku senang akan pekerjaanku ini
Aku melirik kesebelahku dimana istrku duduk mendengarkan percakapan kami berdua.. Kulihat mata istriku mulai basah,dan mulutnya mulai komat-kamit tak bersuara menahan untuk tidak menangis. Dengan cepat istriku berdiri dan berkata :” Aduh, mau kekamar mandi dulu, sudah tidak tahan lagi menahan dari tadi”
Aku sudah menduga terlebih dahulu, dia sudah tidak kuat menahan air matanya. Sebetulnya demikian juga dengan aku, namun rasa ingin tahu apa yang anakku akan katakan selanjutnya membuatku tetap duduk dan menghadapinya. Aku berusaha keras dengan memusatkan pikiranku akan jalannya percakapan ini.
” Dengan keadaan Ayah seperti sekarang ini, sebagai akibat dari tabrakan itu, bukankah itu sudah menunjukkan waktunya untuk pensiun?” tanyanya betul-betul polos.
“ Iya, memang sudah ada dalam pikiranku untuk berhenti bekerja dan pensiun. Tetapi bukannya sekarang, rencananya 2 tahun lagi menunggu cukup umur untuk mendapatkan Social Security Benefit” jawabku.
Biasanya berbicara seperti ini bukan dengan anakku, biasanya dengan istriku atau teman-temanku. Dan sekarang, dia menjadi kawan pembicaraan memperbincangkan soal pensiun pula ?? Tersentak aku, anakku ini sudah bukan “daddy’s little girl” lagi, sekarang sudah menjadi full grown woman. Dan dalam umur yang masih muda begini sudah mempunyai pemikiran yang panjang serta turut memikirkan kesejahteraan orang lain. Hilanglah rasa sedih, air mata yang membendung menekan bola mata mengering dengan sekejap. Rasa sedih berganti dengan rasa malu, seumur dia begitu aku masih senang bermain-main. Naik motor keliling kota, patroli mencari rumah yang ada penghuninya nona manis. Begitu melihat ada noninya, segera motor kumatikan dan bertanya menanyakan rumah Bapak Anu, dsb dsbnya. Kedua kali datang dirumahya kami pergi berkencan. Malu hati !
“ Jadi Ayah mau apa sebagai hadiah ulang tahunnya?” tanyanya lagi. Membuat aku tersentak dari lamunanku.
“ Ayah akan pikir-pikir dahulu beberapa hari ini, bolehkah sayang ?” jawabku.
“ Begini saja Ayah, karena sekarang Ayah tidak dapat keluar rumah dan lebih sering duduk didepan computer, bagaimana sebagai hadiah tahun ini saya upgrade hard disk-nya dan RAM, supaya computernya jalan lebih cepat lagi” ujarnya dengan nada tegas, seolah-olah dia telah menerka dengan jitu apa yang ada dalam pikiran ku.
“ Iyalah, kalau itu Ayah terima hadiahnya dengan gembira. Dan terima kasih atas hadiahmu itu “ ujarku dengan rasa malu-malu kucing.
Walaupun anakku ini sudah boleh dikatakan full grown woman, tetapi dimataku masih juga terlihat sebagai anak kecil. Tidak habis pikir karenanya, bagaimana dia dapat menerka yang ada dalam benakku selama berminggu –minggu terakhir ini.??

Rupanya tidak sia-sia aku mendidiknya selama duapuluh tahun. Ternyata sekarang telah menjadi seorang wanita yang betul-betul menaruh rasa kepedulian terhadap kesejahteraan seseorang selain dirinya sendiri. Aku mengucapkan syukur keHadirat Tuhan Yang Maha Esa, bahwa saya telah diberi bimbingan dalam mendidik anak ini. Seperti didalam hadis Nabi SAW, hanya doa anak yang saleh yang akan sampai kelak bila aku sudah tiada. Dua yang lainnya, Ilmu bagi kesejahteraan manusia dan Amal Ibadah , dalam dua hal ini aku tak dapat mengandalkannya. Mengingat pendidikanku, apa yang diharap dari yang “drop out”. Amal Ibadah, kelakuan istilah jaman doeloe “cross boy”, apa pula yang diharapkan. Well, one out of three, is not bad. Not bad at all. Malah saya bersyukur kehadirat Allah SWT karenanya, banyak orang yang satu inipun tidak dipunyai.nya.
Betul juga orang sini bilang……”God works mysteriously”……..

Mangsi

Mangsi mendongeng.

Mendongeng hal-hal kejadian sehari-hari dipengembaraan di negara Paman Sam